Hukum kewarisan Islam, adalah hukum yang mengatur segala sesuatu yang berkenaan dengan peralihan hak dan atau kewajiban atas harta kekayaan seseorang setelah ia meninggal dunia kepada ahli warisnya. Sumber hukum waris Islam adalah Alquran Surat An Nisa ayat 11, ayat 12 dan ayat 176.

Asas-asas hukum kewarisan Islam adalah sebagai berikut:

  1. Ijbari; Peralihan harta dari seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya berlaku dengan sendirinya menurut ketetapan Allah tanpa digantungkan kepada kehendak pewaris atau ahli warisnya. Asas Ijbari dalam hukum kewarisan Islam dapat dilihat dari beberapa segi yakni: (1) Dari segi peralihan harta yang pasti terjadi setelah orang meninggal dunia, (2) Jumlah harta yang sudah ditentukan bagi masing-masing ahli waris, dan (3) Penerima harta peninggalan sudah ditentukan dengan pasti yang mempunyai hubungan darah dan ikatan perkawinan dengan pewaris, seperti yang dirinci dalam pengelompokan ahli waris di Surat An Nisa ayat 11, ayat 12, dan ayat 176.
  2. Asas Bilateral; Berarti seseorang menerima hak atau bagian warisan dari kedua belah pihak, dari kerabat keturunan laki-laki dan dari kerabat keturunan perempuan.
  3. Asas Individual; Dalam hukum kewarisan Islam harta warisan dapat dibagi-bagi kepada ahli waris untuk dimiliki secara perorangan.
  4. Asas Keadilan Berimbang; adalah keseimbangan antara hak dan kewajiban, keseimbangan antara yang diperoleh dengan keperluan dan kegunaannya. Laki-laki dan perempuan mendapat hak yang sama sebanding dengan kewajiban yang dipikulnya masing-masing dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
  5. Asas Akibat Kematian; Menurut hukum kewarisan Islam, peralihan harta seseorang kepada orang lain yang disebut dengan nama kewarisan terjadi setelah orang yang mempunyai harta itu meninggal dunia.
2019-10-07T14:56:29+00:00